Tuesday, December 20, 2011

Budaya Asing, Positif atau Negatif ?

 


Saya sepakat bila mendengar pepatah yang mengatakan bahwa, “budaya merupakan jati diri bangsa”. Karena dengan budaya kita dapat menunjukkan identitas kita sebagai suatu kesatuan yang dinamakan bangsa. Kita mempunyai jati diri yang jelas, yang sudah kita punyai sebelum kita lahir tentunya. Karena budaya sudah diciptakan karena kebiasaan dari nenek moyang kita terdahulu. Secara etimologis budaya dalam Bahasa Inggris berasal dari Bahasa Latin yakni Colere yang berarti mengolah atau mengerjakan sedangkan budaya dalam Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Sansakerta yakni buddhayah yang berarti hal-hal yang berkaitan dangan akal dan budi manusia.

Dalam sejarahnya budaya kita (baca: Indonesia) berasal dari budaya timur, yang dibawa oleh para pedagang dan penyiar agama sebelum masa koloanisasi. Ketika itu para pedagang yang masuk ke nusantara berasal dari timur, seperti Persia, Gujarat dan Cina. Dengan adanya interaksi dan perkawinan dengan masayarakat kita, maka terjadi asimilasi kebudayaan di dalam masyarakat kita. Hingga sekarang budaya tersebut masih ada, tetapi apakah masih cukup bertahan di era modern ini atau malah pudar karena adanya budaya asing yang masuk?

Budaya kita sangatlah identik dengan budaya malu yang sangat identik dengan budaya timur, namun jika di kaitkan dengan budaya barat tentu sangat berkontradiksi karena budaya barat sangat menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) sehingga memberikan kebebasan pribadi untuk melakukan apa saja, dimana saja dan kapan saja yang mereka mau. Memang sekarang banyak budaya asing yang masuk ke Indonesia, entah itu lewat media massa, film, internet, dll. Semestinya ada dua pilihan bagi kita, bangsa Indonesia, yaitu ingin menolaknya atau menerimanya. Tentunya ada alasan-alasan yang tentunya dapat memberikan dampak positi atau negatif di dalam budaya asing.

Budaya barat yang sangat positif dapat berguna untuk membangun peradaban dan membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) kita, yang tentunya berperan besar dalam kemajuan bangsa. Jika kita lihat negara-negara barat yang tentunya jauh lebih maju dibandingkan dengan kita, apa salahnya jika kita menerima budaya mereka untuk kita gunakan agar negara kita bisa lebih maju lagi. Banyak budaya barat yang memberikan dampak positif bagi kita, contohnya sebagai berkut: budaya disiplin, budaya percaya diri, budaya tepat waktu, budaya antri, budaya to the point (tidak basa basi), budaya kerja keras, budaya sportif.

Jika kita lihat banyak hal yang positif dari budaya barat (baca: asing). Sedangkan contoh dampak budaya asing bagi bagi bangsa kita adalah: memakai baju yang ketat dan terbuka, bermesraan di depan umum, ngebut di jalan raya tanpa mematuhi rambu-rambu lalu lintas, tidak menghargai kesenian daerahnya sendiri dan cenderung untuk menghargai musik-musik modern yang terbaru, dan sebagainya. Dalam masyarakat kita terbentuk pola pikir yang salah, misalnya kalau kita tidak menikugti tren atau mode terbaru dianggap sebagai kurang gaul/cupu. Perubahan cara pandang dan pola pikir di dalam masyarakat kita membentuk suatu pertukaran nilai yang dampaknya tentu saja akan merugikan kita sendiri. Bayangkan saja jika setiap remaja atau anak muda pola pikirnya seperti itu, saya yakin lima atau sepuluh tahun kedepan kebudayaan kita yang telah lama ada menjadi hilang tak berbekas karena tidak dilanjutkan atau tidak diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Ternyata tidak semua budaya barat itu memberikan dampak negatif kepada kita. Kini kita tinggal memilih apakah ingin mengikuti budaya asing yang positif atau negati bagi kita. Masyarakat kita harus lebih peka dalam memilih budaya asing yang masuk, dengan kata lain masyarakat kita harus mempunyai filter budaya. Filter budaya ini berguna untuk menyaring tentang dampak positif dan negatifnya dari suatu budaya asing. Jangan sampai budaya asing menjadi raja di negeri kita dan menghilangkan seluruh kebudayaan kita yang sangat khas dan beragam.

Saya ingat bahwa ada suatu pemikiran dan filsafat yang berkaitan dengan budaya bangsa Jepang. Tokoh tersebut mengatakan bahwa: “Kalian bangsa Jepang boleh memodernisasikan seluruhnya, tetapi jati diri kita “samurai” tidak boleh hilang sampai kapanpun. Kalau ada yang tidak setuju silahkan keluar dari Jepang”. Kata-kata itu sungguh sangat menginspirasi bangsa Jepang waktu itu yang tengah berusaha memodernisasikan seluruh aspek-aspek kehidupan negaranya. Kalau saja kita boleh belajar dari bangsa Jepang untuk menjaga jati diri kita “budaya malu, sopan, ramah, dan gotong royong” agar tidak hilang dan tentunya lebih mempunyai harga diri ketimbang mengikuti arus budaya asing yang masuk.


No comments:

Post a Comment